Skip to main content

Surga Penyu di Pulau Liukang Bulukumba


Penangkaran serta pembiakan penyu di pulau Liukang, Bulukumba Sulawesi Selatan, dilakukan warga setempat selama hampir 7 tahun. Awalnya aktifitas penangkaran hanya swadaya masyarakat dan lembaga masyarakat kemudian perlahan-lahan pengelolaannya dikembangkan bersama LSM dan pemerintah.
Penangkaran penyu ini ditempatkan dipinggiran pulau Liukang dengan memanfaatkan lingkungan laut yang masih bersih dan belum terkontaminasi sehingga bisa memberi keleluasaan bagi penyu untuk berkembang biak secara alami dan sehat. Puluhan penyu hasil penangkaran tersebut hidup dalam pengawasan masyarakat setempat.


Penangkaran penyu ini ditempatkan dibeberapa restoran pantai sederhana yang juga merupakan swadaya masyarakat dan menjadi salah satu objek pariwisata Bukukumba yang menyenangkan. Selain wisatawan domestik, banyak turis asing datang untuk menikmati penangkaran penyu di pulau Liukang ini. Penyu-penyu itu sangat akrab dengan pengunjung dan menjadi teman bermain dalam air.

Penangkaran pulau Liukang juga menjadi salah satu objek pariwisata yang menarik wisatawan dari luar negeri, mereka kagum dengan penyu-penyu yang sangat jinak dan bisa diajak berenang bersama.



Comments

Popular posts from this blog

Jenis-jenis Patung Pahatan Toraja

Warisan budaya ukiran Toraja termasuk seni pahat memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dengan ukiran-ukiran sejenis yang ada di Indonesia. Pada umumnya, ukiran atau pahatan dibuat menurut aturan adat dari kepercayaan kuno yang disebut Aluk Todolo". Karakter yang paling menonjol karena ukiran Toraja hanya mengenal empat warna yakni merah, kuning, hitam dan putih. Dalam riwayatnya, Ukiran dan seni pahat di Toraja pada awalnya dibuat sebagai kelengkapan pembuatan rumah adat Toraja yang disebut Tongkonan. Hampir semua material pahatan berbahan kayu yang khusus. Model kerajinan pahatan patung Toraja kini mengalami perkembangan model dan desain. Dahulunya, patung-patung pahatan dibuat untuk keperluan ritual utamanya untuk pelengkap upacara pemakaman. Namun kini, model pahatan sudah merambah model yang lebih kepada bentuk kehidupan sehari-hari seperti binatang, kehidupan sosial dan abstrak yang mistik. Hasil kerajinan pahatan Toraja banyak ditemui hampir di semua k

Hutan Bengo-bengo, Alam Liar nan Familiar

Bengo-bengo adalah sebuah kawasan hutan alami yang menjadi salah satu objek wisata petualangan di Sulawesi Selatan. Berjarak 40 km dari kota Makassar dan lokasinya yang sangat dekat dari jalan poros Maros – Camba sehingga mudah dijangkau. Berada ditempat yang strategis membuat hutan Bengo-bengo menjadi destinasi yang populer. Daya tarik keindahan alam dan beragam satwa langkanya yang selama ini diperuntukkan untuk internal akademik, kini sudah mampu memikat kalangan para pelancong dari dalam maupun luar negeri untuk datang mengeksplorasinya. Hutan Bengo-bengo adalah hutan pendidikan yang dikelola Universitas Hasanuddin sejak tahun 1980 dengan luas areal 1300 ha. Kawasan Hutannya rimbun dengan berbagai jenis pepohonan yang di dominasi pohon pinus tinggi menjulang dengan hawa sejuk khas pegunungan. Hutan Bengo-bengo menyimpan potensi alam yang luar biasa pesonanya hingga membuat para penggemar wisata yang mengunjunginya akan dibuat takjub dan terkagum-kagum. Pemandangan hutan

Suku Wana, Suku Pedalaman Hutan Morowali Sulawesi Tengah

Suku Wana sering disebut juga dengan  Tau Taa Wana  yang berarti "orang yang tinggal di hutan". Namun mereka juga suka menyebut diri sebagai Tau Taa, atau "orang Taa". Suku Wana berbicara dalam bahasa Taa. Suku Wana atau suku To Wana ini termasuk suku tertua di Sulawesi, diduga termasuk salah satu suku pertama yang menghuni daratan Sulawesi, yang telah ada di Sulawesi sejak 8000 tahun yang lalu pada zaman Mezolithicum. Sebelum sekarang mendiami kawasan Pegunungan Tokala, nenek moyang orang Wana berasal dari sekitar Teluk Bone. Suku Wana adalah penduduk asli di kawasan Wana Bulang yang berada di wilayah kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Pemukiman mereka pada umumnya ditemukan berada di kecamatan Mamosolato, Petasia, dan Soyojaya, dan tedapat juga di wilayah pedalaman di kabupaten Luwuk Banggai. Mereka hidup dari hasil hutan, ladang berpindah-pindah dan berburu. Populasi suku Wana ini diperkirakan hanya 400 orang saja. Baca selengkapnya :